Peluncuran kampanye "Say Sorry for ‘65" pada ulang tahun ke-40 TAPOL

28 Jun 2013
TAPOL

London – Perayaan ulang tahun ke-40 organisasi HAM TAPOL, hari ini ditandai dengan peluncuran Say Sorry for ‘65 (Minta Maaf untuk ’65), kampanye untuk menyerukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengakui kebenaran atas peristiwa pembunuhan massal 1965 di Indonesia.

Kampanye ini diluncurkan pada malam pembukaan pemutaran film peraih banyak penghargaan “The Act of Killing” di Bioskop Ritzy di Brixton, London.

Film dokumeter luar biasa ini memiliki dampak besar di berbagai penjuru dunia dan membantu untuk mengangkat kesadaran atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan yang dilakukan pada masa Jenderal Soeharto menuju kekuasaan pada 1965-1966. Hampir 1 juta orang dibunuh saat Soeharto mengambil alih kekuasaan, yang  termasuk pembunuhan massal terburuk pada abad ke-20.

“Fakta yang mengejutkan adalah ketika semua orang mendengar tentang kekejaman di Kamboja, Rwanda dan Bosnia, pembantaian 1965 sedikit sekali diketahui, dan tak seorang pun dibawa ke proses peradilan atas kejahatan yang mengerikan ini. Sekarang adalah saat yang tepat bagi Presiden Yudhoyono untuk mengambil tindakan yang benar dan minta maaf kepada pihak-pihak yang telah banyak menderita,” kata pendiri TAPOL, Carmel Budiardjo.

Say Sorry for ‘65 adalah upaya untuk membangun kesadaran atas peristiwa mimpi buruk pada tahun 1965 dan mengajak dukungan internasional kepada para korban yang saat ini putus asa menanti permintaan maaf resmi dari negara. Sebuah petisi online kepada Presiden bertujuan untuk mengumpulkan 10.000 tanda tangan di seluruh dunia.

TAPOL didirikan pada tahun 1973 untuk mengkampanyekan ribuan tahanan politik yang ditahan rezim Soeharto. Carmel Budiardjo sendiri dipenjara oleh rezim ini selama 3 tahun tanpa proses peradilan. Ia mendirikan TAPOL setelah dibebaskan dan kembali ke Inggris.

Selama lebih dari 4 dekade, TAPOL masih konsisten mengkampanyekan ketidakadilan dan berbicara keras atas nama para korban pelanggaran HAM di Timor-Timur, Aceh, Papua, dan berbagai wilayah lainnya.  TAPOL menggugat pelanggaran HAM oleh militer dan polisi, dan memantau dan menentang penjualan senjata oleh pemerintah Inggris kepada Indonesia.  TAPOL terus mengangkat masalah pelanggaran HAM yang sangat serius yang masih terjadi, khususnya di Papua meskipun kemajuan telah dibuat Indonesia dalam transisi menuju demokrasi sejak kejatuhan Soeharto di 1998.

Upaya TAPOL berkenaan dengan kampanye Say Sorry for ‘65 dan The Act of Killing didukung oleh Bertha Foundation, Picturehouse Cinemas, and Dogwoof, distributor film di Inggris.

WWW.SAYSORRYFOR65.ORG

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: Paul Barber di +44 7747 301 739