Dari tempat pengasingan...

25 Jan 2013
Dominikus Surabut
By: 
Dominikus Surabut, diterjemahkan oleh TAPOL

Pidato Penerima penghargaan Hibah Hellman/Hammett 2012

Waa waa waa waa

Tempat dan kesempatan yang mulia ini, saya hormati, dari tempat pengasingan kepada:

  • Manajer, Hellman/Hammett selection proses Human Rights Watch.
  • Human Rights Watch Asia
  • Human Rights Watch Indonesia
  • Para aktivis pekerja kemanusian non pemerintah.
  • Rakyat Papua yang saya cintai

Syukur bagi-Mu Tuhan

Dengan menyadari kehidupan dewasa ini penuh dengan rasa ingat diri, persaingan dan pergeseran nilai-nilai manusiawi. Fenomena ini, hati kecil setiap insan bertanya tentang dirinya sebagai manusia. Apakah saya dihargai sebagai manusia? Jawabannya terbentang luas ditengah kehidupan manusia yang berupaya menumbuhkan rasa keadilan yang bersahabat. Seorang diri dan kelompok tertentu yang mempertahankan seluruh hidupnya membangun dengan mengerjakan budaya damai bersama orang-orang teraniaya terkadang sebuah pekerjaan yang sulit dan cukup panjang menjalani masa-masa pahit dalam kurun waktu yang kelam mengenai keyakinan politiknya. Penderitaan dan kesulitan ini pernah alami oleh Lillian Hellman dan Dashiell Hammett, juga banyak orang di Planet bumi ini pernah alami penderitaan oleh penguasa atau pihak tertentu dengan sengaja melakukan tindak kekerasan Hak asasi manusia.

Saudara-saudara, sudah tentu mengetahui bahwa hal yang sama sedang dialami oleh Bangsa Papua rumpun Melanesia ras negroit di Pasifik Selatan. Namun bangsa Papua sudah membayar harga terlampau mahal untuk kehidupan bebas yang bermartabat. Itu artinya, sudah 51 tahun pula bangsa Papua jatuh sebagai korban di jurang konspirasi kepentingan politik global. Sering kali kami dihakimi sewenag-wenag menjadi korban kejahatan Negara dari kejahatan terhadap kemanusian.

Jika pada hari ini kita ingat kembali, seraya mengungkapkan masa lalu yang pahit, itu bukan lantaran kita ingin meratapi puing-puing atau sekedar menangisi derita masa lalu, kemudian tenggelam tak berdaya. Justru sebalinya dengan penghargaan Hellman/Hammett pada hari ini, kami bangsa Papua mewartakan kepada seluruh dunia bahwa kami hanya kecil dihadapan pencipta, tetapi setara dan memiliki harkat yang sama seperti bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini, maka kami berhak atas kebebasan, berhak menikmati kehidupan yang bermartabat dalam suatu tatanan masyarakat demokratis yang damai dan tertib.

Cengkraman kuku Indonesia semakin kuat, rakyat Papua diberbagai pelosok mengalami ketakutan hebat. Budaya bisu mulai membelenggu ratusan ribu anak Papua. Kami tak berdaya kebebasan dan keadilan, hilang ditelan laras bedil dan sepatu lars oleh aparat TNI dan Polri. Akibatnya bangsa Papua mengalami krisis identitas, kehilangan jati diri, berlari dan terus berlari hingga letih dan jatuh terkapar tanpa mengerti mengapa malapetaka ini tiba-tiba terjadi.

Saudara-saudaraku

Sekalipun harapan kami dibungkam, kehidupan kami dihancurkan, disiksa dan diisolasi, butiran darah jatuh membasahi diatas tanah dan bangsa Papua, tapi Tuhan berkenan memberi hikmat kepada kami, terlebih saya dikuatkan dengan berbagai tekanan untuk dapat merekam proses dan dokumentasi kekerasan, melakukan penguatan-penguatan terhadap masyarakat asli Papua sebagai pihak korban kekerasan Militer, sebagai barang tentu hanya karena tekad dan semangat padamu negeri. Dengan menyadari bahwa kebenaran selalu ditempatkan pada tempat yang hina, hal ini dapat saya alami berbagai ancaman yang sungguh luar biasa. Mungkin saudara-saudara hadir diacara yang paling mulia ini pasti sedikit banyaknya tahu situasi kekerasan di Papua, tentu eskalasinya beda dengan daerah lain di Indonesia.

Saya secara pribadi bersyukur, situasi ini dapat mendewasakan, mengokohkan dan menguatkan saya, kebenaran yang kami perjuangkan adalah damai sejahtera, demokratis dan menjung-jung tinggi nilai-nilai kemanusian. Namun nilai-nilai ini, terus dan terus direduksi oleh pemerintah Indonesia dan sekutunya pada 3 (tiga) kepentingan besar yaitu:

1. Penghisapan Sumber Daya Alam;

2. Pemiskinan penduduk asli pribumi Papua;

3. Kejahatan terhadap kemanusian dan pelanggaran Hak-Hak Asasi Manusia.

Ketiga kepentingan ini bermuara dari adanya distorsi sejarah masa lalu, yaitu Aneksasi Kemerdekaan Kedaulatan Bangsa Papua oleh pemerintah Republik Indonesia melalui UNTEA dan tindak lanjutnya melalui invasi militer Indonesia sejak 1962 sampai sekarang.

Kami terus dan terus berjuang untuk mengakhiri multi konflik kekerasan di Papua, namun selalu terkungkung dibawah kekuasaan laras panjang tanpa henti-henti. Trauma dan rasa kebencian selalu terlahir dari sikap dan prilaku kekerasan oleh Pemerintah Indonesia melalui aparat militernya kepada kami, namun dengan rasa penuh tanggungjawab kekerasan tersebut justru membangkitkan naluri juang lebih kuat.

Saya sendiri mengalami hal itu, sejak menjadi relawan untuk pemulihan rakyat dan tanah Papua. Dan lebih dasyat lagi, ketika saya ambil bagian dalam kongres rakyat Papua ke tiga pada bulan Oktober 2011 di Jayapura, sebagai pesta demokrasi rakyat Papua untuk memulihkan Negara dan bangsa Papua secara damai, namun pemerintah Indonesia membungkam kembali kebebasan berdemokrasi, saya bersama teman-teman setelah 2 (dua) jam paska kongres rakyat Papua ke Tiga, militer Indonesia secara brutal membubarkan dengan menghuyani tembakan, penyisiran, penangkapan, disikasa. 3 (tiga) orang ditembak mati, 300-an orang lebih di tangkap dan dari semuanya kami 5 (lima) orang diangkap sebagai tersangka dengan melanggar hukum kebebasan berdemokrasi secara damai, kemudian dihukum masing-masing 3 (tiga) tahun penjara sampai sekarang kami mendekam dalam rumah pengasingan Lapas Klas IIA Abepura. Kekerasan serupa juga sedang di alami oleh rakyat Papua, di Puncak Jaya, Nabire, Serui, Biak, Manokwari, Timika, Merauke, Jayapura dan Wamena oleh aparat Militer Indonesia.

Saudara-saudara

Kekerasan di Papua tidak akan di selesaikan dengan mengirimkan lebih banyak pasukan atau oleh operasi Militer, justru ada kecenderungan situasi Hak Asasi Manusia di Papua memburuk ke depan. Penyelesaikan kekerasan di Papua tidak bisa dengan pendekatan kekerasan/represif militer, namun secara bermartabat dengan etika sopan santun duduk setara dan berdialog damai dengan pemimpin Papua dan Pemerintah Indonesia, ini yang disebut Indonesia Negara hukum dan Negara yang menganut asas Demokrasi. Namun pada kenyataannya, Indonesia mereduksi secara sepihak nilai-nilai Hukum dan asas Demokrasi untuk membunuh dan menyerat rakyatnya.

Sejak tahun 2000, rakyat Papua menyuarakan untuk dialog damai dengan pemerintah Indonesia, namun Pemerintah Indonesia selalu membungkam dengan merespon kekerasan demi kekerasan kemanusia dan Perampokan Sumber Daya Alam di Papua. Oleh sebab itu, dalam acara yang mulia ini, saya mohon dukungan kepada saudara-saudara mendorong secara bersama untuk penyelesaian konflik kekerasan di Papua secara damai dan dialogis.

Hajatan penghargaan Hibah Hellman/Hammett 2012 kepada saya oleh Human Rights Watch, merupakan salah satu bentuk dukungan sekaligus pengakuan perjuangan saya dan rakyat Papua oleh masyarakat Internasional. Dan bagi diri saya penghargaan ini adalah kemenangan rakyat Bangsa Papua, oleh sebabnya kita secara konsisten dari waktu ke waktu memboboti perjuangan kita tanpa kekerasan atau perjuangan damai. Pekerjaan kemanusian dari waktu ke waktu terus kita akan gumuli bersama di seluruh muka bumi ini, untuk mencapai pengakuan derajat kemanusian yang bermartabat secara universal.

Sekalipun tanah dan bangsa Papua sedang terpenjara, namun suara dan tangisan kami telah di dengar sedikit demi sedikit sampai pemulihan kekerasan HAM di tanah Papua menjadi tanah Damai. Dengan demikian penghargaan ini menjadi lambang perlawanan dan tanggungjawab lebih besar saya dan rakyat Papua menegakkan kebenaran sejarah bangsa. Kita mengumpulkan kebenaran sedikit demi sedikit menjadi bukit, diatas bukitlah kita berdiri menghirup udara pembebasan.

Akhirnya, perkenankan saya sekalipun tidak mendengar  suara saya dan tidak melihat fisik saya dari balik terali besi, tapi dengan semangat pembebasan yang teguh, saya mengucapkan terima kasih kepada Manajer Hellman/Hammett, tim seleksi Human Rights Watch,  saudara-saudar aktifis dan pekerja kemanusia, secara khusus keluarga saya bangsa Papua yang sedang terpenjara dan semua pihak yang membantu saya dalam event tahunan ini. Kiranya berkat Tuhan selalu menyertai kita dalam karya dan pelayanan kemanusiaan dimasa  kini dan akan datang.

Terima kasih

 

Waa waa waa waa

 

                                  Pengasingan Lapas Klas IIA Abepura

                    09 Januari 2013

 

                   Yang Berbahagia

 

                 Dominikus Sorabut