Perempuan dalam Parlemen: Tak Sekedar Soal Kuota

Feb 2009
Adriana Sri Adhiati

Pemilihan umum di Indonesia saat ini sering dianggap sebagai ‘pesta demokrasi’ yang sebenarnya, peristiwa yang perlu dirayakan setelah tiga puluh tahun lebih selama masa kediktatoran pemilu dimanipulasi dan hasilnya selalu dapat ditebak. Pemilu 2009 sudah dekat dan hiruk pikuknya pun semakin terasa, dan pertanyaan yang muncul di benak banyak orang adalah: Akankah perempuan memenangkan lebih banyak kursi di dewan perwakilan dibandingkan dengan dua pemilu sebelumnya setelah jatuhnya Suharto?

Pada bulan Desember, kurang dari empat bulan sebelum pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD dan DPD, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan yang memandulkan sistem kuota yang diwajibkan bagi kandidat perempuan karena caleg dengan suara terbanyaklah yang akan terpilih terlepas dari jenis kelamin mereka.

Keputusan tersebut mengundang berbagai reaksi. Sementara ada partai yang menyambut baik dengan mengatakan bahwa keputusan itu menjunjung nilai-nilai demokrasi, kelompok perempuan merasa khawatir hal ini dapat merugikan posisi perempuan dalam proses politik.

Untuk baca selengkapnya, PDF bisa di download.